Senin, 14 Agustus 2017

Sensation Maker


Bacanya jangan diskip yahh, soalnya yang di wattpad banyak paragraf yang di skip dan diperhalus bahasanya. sedangkan disini lebih vulgar. adegan 18++ lebih kepada ekspektasi wkwkwk
Happy reading^^
~~~~~
Setelah menikmati panorama tenggelamnya matahari di kaki langit, Sean dan Sasy langsung pulang ke resort. Mereka kembali ke sana bukan untuk olahraga di kamar sampai besok, tapi untuk membawa baju ganti dan pergi lagi.

Sasy bilang akan mengajak Sean berenan. Sean sempat menyuarakan kebingungannya karena di resort sudah ada kolam renang lengkap dengan air panasnya, tapi Sasy biang ikut saja jangan banyak bertanya. Alhasil menurutlah ia, anggap saja hari ini adalah hari Sasy.

Sekarang mereka duduk di dalam taksi yang telah melaju hampir satu jam lamanya. Akibat libur tahun baru, jalanan menjadi sangat padat sampai-sampai mereka sempat terjebak macet. Sean melirik jam tangannya yang menunjukan pukul delapan, lalu tatapannya beralih pada Sasy yang duduk tertidur dalam rengkuhannya.

Katanya dia mau charging energy buat nanti malam. See? Such a naughty little devil.

Sang sopir melirik dari kaca spion, “Mas, ini sudah sampai. Rumahnya yang mana, ya? Soalnya nggak ada nomornya.”

“Sebentar ya, pak. Saya tanya dulu.” Sean menepuk-nepuk pelan pipi Sasy, “Sy, bangun. Sasy....”

Sasy menggeliat kecil, matanya terbuka sayu. “Hmm ... apa?”

“Rumahnya yang mana?”

Sasy meluruskan posisinya yang bersandar pada Sean, ia mengusap matanya sebelum mengamati kawasan di luar jendela. “Masih lurus, Pak.” Ucapnya dan sang sopir pun mengikuti. “Nah, itu yang pagar coklat, Pak.”

Mobil itu langsung menepi di depan rumah yang ditunjuk Sasy. Setelah membayar ongkosnya, mereka keluar dari taksi. Tak lupa Sean membawa tas jinjing berisi barang-barang mereka yang sudah disatukan.

Awalnya Sean kira Sasy akan membawanya ke tempat pemandian alam atau pemandian air panas, tapi Sasy bilang mereka akan pergi ke sebuah rumah. Setelahnya Sean tak bertanya lagi karena selama ini dia memang menikmati kejutan-kejutan yang diberikan Sasy.

Setelah Sasy membuka gembok di pagar, mereka lantas memasuki pekarangan rumah tersebut.

“Nggak ada orangnya?”

Sasy menggeleng, “nggak ada ... sebenernya ini lebih mirip galeri seni.” Sesampainya di depan pintu, ia langsung membukanya dan menekan sakelar yang ia hafal letaknya.

“Wow....” Seketika Sean bergumam takjub, pandangannya menyapu setiap sudut ruangan dengan kagum.

Ruangan berukuran cukup luas yang langit-langitnya terbuat dari susunan kayu berpelitur itu dipenuhi oleh lukisan-lukisan yang terpajang di dinding bercat putih. Setiap kayu piguranya berukiran unik dan seluruh lukisan yang terbingkai benar-benar indah dipandang mata. Nuasa lukisannya berbeda-beda tapi terasa senada seolah memiliki satu nyawa, atau lebih tepat disebut ciri khas sehingga siapapun dapat menebak bahwa semua lukisan yang tersemat di ruangan ini terlahir dari satu tangan.

“Ini lukisan kamu?” tanya Sean spontan.

“Maunya sih gitu, tapi sayangnya bukan. Aku nggak sejago ini kalo soal lukisan,” tampik Sasy kemudian lanjut berjalan. Menyadari Sean tak mengikutinya, ia pun berbalik dan mendapati pria itu masih terpaku di tempatnya dengan mata tak lepas dari lukisan. “Seaaannn, besok pagi aja puas-puasin liatnya. Kita nginep di sini, kok.” Sasy menarik tangan Sean untuk mengikutinya.

Sasy membawa Sean ke sebuah ruangan dengan set sofa beludu model lama dan sebuah TV tabung keluaran 80-an. Ada pahatan kayu di sudut ruang tersebut, beserta sebuah lemari jam antik dan dua tembikar antik di sisi kanan kiri meja televisi.

“Orang yang punya tempat ini mirip kayak kamu, sukanya yang jadul-jadul. Tapi masih jauhan kamu sih jadulnya.” Sasy tertawa kecil. “Tasnya taruh aja dulu di sofa, nanti dipindahin lagi.”

Sean mengikuti anjuran Sasy. “Siapa yang punya rumah ini? Paman kamu?”

“Bukan, nanti aku ceritain pas di kolam.” Sasy yang baru mulai berjalan menuju pintu belakang, mendadak teringat sesuatu dan langsung berbalik ke belakang. “Kamu pake sempak model apa, Sen?”

Sean seketika tergelak dan membuat Sasy sadar kalau kalimatnya barusan sangat-sangat ajaib. “Bu-bukan gitu maksudku ... ih Sean jangan ngakak dong, kan aku jadi malu!” omelnya dengan wajah menggelembung lucu.

“Sasy, you’re so adorable,” ucap Sean disela tawanya.

“Hah! Sejak kapan cewek nanyain model sempak yang dipake cowok itu adorable?!” Sasy mengacak-acak rambut frustasi, dia tertunduk karena malu. Dasar mulut terkutuk!

“Oke ... oke....” Sean mengatur napasnya, “jadi maksud kamu?”

“Kita kan mau berenang nih, bajuku udah ku dobel sama baju renang. Makanya aku tanya kamu sekarang pake boxer atau segitiga sama sisi atau segitiga sembarang?” Sean yang kembali tertawa membuat Sasy mencubit perutnya gemas. “Kan siapa tau kamu mau pake celana renang atau apa gitu?”

“Kamu kan tahu model underware-ku gimana.”

Calvin klein? Oke.

Sasy mendengus rikuh, “Yaudah yuk langsung aja.”

Terserah deh mau boxer kek, mau kolor tiga dimensi kek, mau sempak compang-caming juga terserah, berenangnya cuma berdua ini. Ya ampuuunn ... kenapa gue malu-maluin menjijikan gini sih?

Sean mengikuti langkah Sasy menuju pekarangan belakang rumah tersebut. Ada kolam renang cukup panjang di sana dan dikelilingi marmer berwarna biru muda. Lalu ada dua buah pohon kelapa cukup tinggi di sisa halaman yang ditumbuhi rumput dan kursi besi panjang yang terletak di antaranya.

Sayup-sayup, Sean dapat mendengar deburan ombak. “Ini dekat pantai, ya?”

“Iya, jalan kaki lima menit juga nyampe,” jawab Sasy yang berjalan menuju kursi besi berwarna coklat di sana.

“Jadi kamu mau berenang berdua aja?”

“Yups, kan kalo di resort diliatin orang, nggak bebas dong.” Sasy tertawa, tapi cuma sebentar karena sadar kalau tawanya sangat mesum. “Bajunya taruh di bangku aja biar nggak basah.”

Sasy memegang bagian bawah baju ungunya lalu menariknya ke atas, namun ketika di tengah jalan ia berhenti dan menurunkan bajunya kembali karena menyadari tatapan Sean yang mendarat lekat padanya.

“Jangan gitu dong liatnya.” Duh, Sasy benar-benar malu, padahal mereka sudah melihat tubuh polos satu sama lain.

Sean tertawa kecil, “oke... oke....” bukannya melepaskan baju yang dikenakannya, Sean malah berjalan mendekati Sasy. “Aku aja yang lepasin,”

Kalau begini, Sasy tak kuasa menolaknya. Tapi kalau diingat-ingat, dua kali mereka bermain memang selalu Sean yang melepas pakaiannya. Termasuk yang di kamar Sean waktu itu.

Sean menarik baju Sasy keluar dari kepalanya. Baju renang yang dimaksud Sasy adalah bra bikini berwarna biru yang tali belakangnya terikat, tapi tali atas yang seharusnya diikat di leher dibiarkan menjuntai. Sasy memang sengaja tak mengikatnya karena kerah belakang bajunya cukup rendah dan dia tak mau pamer kalau ia mengenakan bikini.

“Natapnya nggak usah gitu banget deh, punyaku bukan melon.” Sasy memberengut.

“Kan aku sudah pernah bilang ... no matter big or tiny, for me it’s still breast.” Tiba-tiba Sean mengecup singkat bibir Sasy, membuat gadis itu tersipu oleh perlakuan spontan pria dihadapannya. Sean tak pernah seperti ini sebelumnya, rasanya hari ini seperti bukan bersama Sean. Atau mungkin dia yang selama ini belum mengenal Sean?

“Buka dong.” Sasy menarik-narik ujung kaus biru navy Sean, meminta pria itu untuk membukanya.

Nah, ini dia. Sasy tersenyum lebar ketika Sean membuka bajunya. Tubuh pria itu tergolong atletis, tapi tanpa otot yang menonjol berlebihan. Apalagi tubuhnya tinggi tegap dan lengannya terlihat kokoh, membuat nilai seksinya semakin bertambah–terutama saat dibaluri keringat. Tapi yang terpenting, otot six pack di perutnya yang sangat menggoda itu, yang bikin lemah iman dan membuat siapapun ingin bergesek-gesek nikmat di sana. Duh, macem pria idaman seantero wattpad banget, Sasy cekikikan dalam hati.

Detik selanjutnya tak ada yang berbicara, mereka sibuk dengan benak masing-masing dan mengutus intuisi untuk mengomando syaraf motorik mereka.

Sasy dapat merasakan terpaan napas Sean di permukaan kulit pundaknya saat pria itu bergerak mengikatkan tali baju renang atasnya ke belakang leher. Merasakan sentuhan jari Sean saat mengikat tali itu, membuat Sasy mengigit bibir bawahnya tanpa sadar. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk menarik simpul tadi di balik pinggang celana cargo Sean.

Rasanya momen ini sangat intim tanpa perlu saling menjamah dan mengisi satu sama lain.

Sean menurunkan celananya dan melemparnya ke atas kursi, begitu pun dengan Sasy yang mencampakkannya begitu saja. Gadis itu terpaksa mengalihkan pandang dari sesuatu yang menonjol di balik kain itu, ia tak ingin hidangan utama rusak karena tak mampu menahan napsu.

Sasy berjalan mendekati kolam. “Langsung aja, yuk,” ajaknya.

Sean lebih dulu melompat ke dalam kolam, sedangkan Sasy duduk di pelipirnya dengan kaki yang tercelup ke dalam air. Sean yang baru menyembul ke permukaan air, mengusap wajah dan menyugar rambutnya ke belakang lalu berenang mendekati Sasy.

Posisi Sean yang berhenti di depan lutut Sasy, membuat Sasy ingin langsung mengangkang saja. Syalan syalan, jauhkan pikiran nista itu! Sasy mengerang dalam hati.

“Katanya kamu bikin tato, mana? Aku nggak lihat.” Sean melayangkan pertanyaan tersebut karena teringat percakapannya dengan Sasy di telefon saat di bandara hendak bertolak ke bali tiga hari lalu.

“Sean, menurut kamu cewek tatoan itu gimana?” suara Sasy di seberang sana terdengar ceria.

“Apresiasi buat tubuh mereka sendiri, mungkin?” jawab Sean yang sedang duduk di ruang tunggu bersama anggota Sirius simfoni lainnya.”

“Berarti aku boleh dong bikin tato?”

“Tergantung tatonya gimana.”

“Tatonya di bawah pusar, tulisannya welcome terus dibawahnya ada tanda panah ke bawah.”

Sean tak mampu menahan tawanya dan itu membuatnya menjadi pusat perhatian seluruh anggota orkestranya. Sangat langka melihat seorang Parasean yang selalu serius bisa tertawa segeli itu. Alhasil Sean beranjak dari duduknya lalu bersandar di pilar yang agak jauh dari rombongan Sirius Simfoni.

“Nggak, nggak boleh,” larangnya. Astaga, membayangkannya saja bisa bikin gila.

“Posesif amuh!” tawa Sasy terdengar. “Itu kan buat nyambut kamu kalo mau masuk, hahaha.”

“Please dont,” ucap Sean disela sisa tawanya. “I just need your lips to greet me.”

“Sen, jangan bikin aku bayangin yang aneh-aneh deh.”Sasy memprotes, padahal dia duluan yang mulai. “Ntar aku gaet bule nih,” ancamnya.

“You will get punishment if you dare,” bisik Sean rendah.

Sasy terkikik, “you dont have playroom.”

“I’ll make it.”

“No!!! Sen! You need holy water to clear your infected brain.” Sean tak membalas, hanya mengeluarkan tawa singkat.“Oke, back to the topic. Tatonya kecil kok, cuma di kaki. Boleh ya?”

“Iya boleh.”

Entahlah, Sean merasa senang saja karena Sasy meminta izinnya untuk melakukan sesuatu pada tubuhnya sendiri. Seolah tubuh gadis itu adalah miliknya. Seutuhnya.

Pembicaraan mereka pun harus putus sampai di situ karena panggilan keberangkatan terdengar.

“Kamu mundur deh biar aku kasih liat.”

Setelah Sean melangkah mundur, Sasy mengangkat kakinya dari air menjadi berselonjor. Ternyata tato itu terpatri di tempat yang tak pernah dibayangkan Sean.

Telapak kaki.

Di telapak kaki kanannya terukir gambar sayap malaikat sebesar lima senti dan di atasnya terdapat tulisan ‘flying’. Di telapak kaki kirinya pun demikian, namun kata yang terukir adalah ‘without wings.” Jika telapak kakinya disatukan, maka tampaklah sepasang sayap dengan tulisan di atasnya ‘flying without wings’.

Jika dulu Sean mengibaratkan Sasy seperti teropong kaleidoskop, maka sekarang Sasy tak ubahnya sebuah kotak pandora yang isinya tak pernah bisa ditebak.

“Kenapa kamu bikinnya di sini?” Sean menatap Sasy dengan raut wajah penasaran.

Bukannya menjawab, Sasy malah turun ke dalam kolam. Ia terpaksa bernjinjit karena kedalaman air kolam tersebut melebihi batas dagunya. “Aku lupa kalo semakin ke tengah, kolamnya semakin dalam.”

Sasy menggapai bahu Sean, berniat berpegangan agar tak lelah berjinjit dalam air. Namun belum sempat tangannya mendarat, Sean sudah lebih dulu mengangkat pinggangnya. Mengangkatnya dalam gendongan sehingga Sasy refleks melingkarkan kakinya di pinggang Sean dan ia dapat merasakan tangan pria itu menahan di bokongnya.

Koala hug in the water, maybe?

“How?” Sean memang beberapa kali menggendong Sasy seperti ini. Gadis itu tak terlalu berat–mungkin hanya dikisaran 40kg–dan berada di dalam air membuatnya jauh lebih ringan.

Terdengar gemericik air Saat Sasy mengalungkan tangannya ke leher Sean. “good,” gumamnya sembari tersenyum.

“Giliran kamu bercerita.”

Sasy terpekur sejenak, bergelut dalam pikirannya untuk menentukan seberapa banyak ia bercerita dan dari mana harus memulai. “Hmm ... kamu tau kan passion-ku di seni gambar?” Sean mengangguk. “Bagiku menggambar adalah kebebasan, bisa mengekspresikan apapun yang ada dalam pikiranku tanpa adanya batasan. Rasanya seperti terbang bebas mengarungi dunia tanpa harus memiliki sayap.”

“Tapi di situ ada gambar sayap?”

“Itu cuma simbol. Karena sayapku bukan sayap yang berada di punggung, tapi alat-alat tulis seperti pensil dan pena ... itulah sayapku.”

Sean tersenyum menikmati pancaran penuh impian di kedua mata gadis itu. “Jadi, siapa yang mendorong Sasikara menemukan sayapnya?”

Sasy melepaskan pandangannya dari netra Sean, tatapannya bergulir ke dalam air dengan pandangan menerawang. “Abangku....” lirihannya begitu tipis nyaris tersapu semilir angin.

Abang? Seingat Sean tak ada panggilan abang saat Sasy mengenalkan keluarganya. Tetapi Sean tak menyuarakan kebingungannya, ia mempersilahkan Sasy menyelami pikirannya sendiri.

“Namanya Rigel Orion...” dadanya sesak dikala menarik napas, bukan karena tubuhnya terhimpit air, tapi karena bayangan wajah seorang laki-laki yang terlintas dalam benaknya. “Dia yang ngajarin aku gambar, yang selalu cerita tentang mitologi, rasi bintang dan benda-benda langit lainnya. Dia juga yang punya rumah ini....” Sasy menengadah, sorot sendunya terarah pada kawanan bintang di langit pekat yang berserakan di sekeliling bulan bergradasi transparan. “Tapi sekarang dia udah jadi bintang Rigel di rasi bintang pemburu; Orion.”

Sean mengangkat kepalanya, ikut mengamati serakan bintang yang menggantung abadi di langit malam. “Aku juga punya seseorang yang sudah menjadi bintang.”

Namanya Cassie...

Napas Sean menjadi berat. Ia bahkan tak sanggup menyebut nama itu, selalu ada getaran dalam suaranya saat memanggil nama itu. Sekecil apapun getarannya, ia tak mau orang-orang menyadari titik terlemahnya dan mengetahui bahwa poros hidupnya tak lagi ada.

Ketika Sasy menundukkan wajahnya, ia dijerat oleh sorot dalam sepasang netra hitam pria di hadapannya. Tatapan mereka beradu, saling menelisik satu sama lain. “Kiss me,” bisiknya.

Tangan Sean yang berada di bokong Sasy, menuntun gadis itu agar lilitan kakinnya yang berada di pinggang turun ke pinggul. Setelah kepala mereka sejajar, barulah Sean meraup bibir gadis itu. menciuminya layaknya menghirup oksigen yang akan mati jika sekali saja tak terhela.

Bibir mereka saling memagut, sama-sama mencari kenikmatan yang mereka candui. Lalu entah siapa yang memulai, lidah mereka saling beradu dan membelit hingga erangan nikmat meluncur dari sela bibir mereka. Begitu intim dan menuntut, membuat angin yang menerpa kalah dengan panasnya gairah mereka.

Napas Sasy yang terengah ketika ciuman mereka terlepas, berubah menjadi desahan nikmat dikala bibir Sean menghisap lehernya dengan begitu posesif lalu lidahnya menjilat lehernya naik hingga ke rahangnya hingga bibir mereka bertemu lagi. Lumatannya liar dan sedikit kasar, namun begitu memabukkan saat dicecap. Membangkitkan rangsangan dan membuat bagian tubuhnya bergelenyar.

“Ughh...”

Erangan Sasy membuat Sean semakin bergairah, ia menyelipkan tangannya di balik celana dalam gadis itu lalu meremasnya hingga ia merasakan cakaran gadis itu di punggungnya. Sean tak pernah menyangka bahwa tubuh yang tergolong kecil seperti Sasy justru yang paling kuat membakar gairahnya, memangkas seluruh logikanya, dan mampu membuat celananya sesak. Bukannya merendahkan, tapi sepanjang pergulatan seksnya, lawannya selalu yang bertubuh semampai bak model. Namun Sasy keluar sebagai juara baru dan tak ada tandingannya. Stamina gadis itu benar-benar diluar dugaan, mampu menyaingi hasratnya yang selalu membuat kewalahan itu.

Sean menaikkan gendongan Sasy agar bisa berhadapan dengan payudara Sasy. Bibir Sean yang panas dan basah menyesap puting payudara Sasy yang menegang, membuat Sasy mencengkam rambut Sean dan kakinya yang melingkar di tubuh Sean merosot tanpa sadar. Hanya tangan Sean di bokongnya yang menahan Sasy agar tidak jatuh.

“You hard, babe,” ucap Sasy ketika kakinya yang menjuntai bersentuhan dengan ereksi Sean.

Sean melepaskan mulutnya dari payudara Sasy yang telah memerah di sekitar putingnya, “You have to fix it, Sasy.”

“No, jangan sekarang. Aku masih punya kejutan buat kamu, tahan dulu.”

“Itu sakit kalau terlalu lama, please....”

Diberi tatapan memohon, Sasy menjadi tidak berdaya. Sekuat tenaga ia mengais sisa-sisa pertahannya, “tapi oral aja, ya? Kalo main nanti kita ke bablasan.”

Sean tak menjawab, ia membawa Sasy ke pinggir kanan kolam renang, yang mana semakin ke pinggir semakin dangkal. Sean menurunkan Sasy, di area itu tinggi permukaan airnya hanya sebatas dada Sasy dan permukaan lantai pinggir kolam setinggi lehernya. Well, tempat yang tepat bagi Sasy menyelesaikan pekerjaannya.

Sean menumpukan telapak tangannya di pinggir kolam lalu bergerak naik dan berbalik duduk dengan kaki menjuntai ke dalam air.

Sasy menurunkan bagian depan celana dalam Sean dan menyembulah kejantanan pria itu yang sudah membesar dan selalu mampu membuat napasnya tertahan. Belum meregang maksimal saja sudah sebesar itu ... dan menggiurkan. Bokong Sean terangkat saat Sasy menurunkan celana dalamnya dan membuangnya entah kemana. Otomatis Sean membuka kakinya, menyuguhkan kebanggaannya pada Sasy.

“Pengen aku sentil deh ini, nakal banget,” ujar Sasy dengan tampang cemberut lucu.

Sean terkekeh, “jangan, nanti tambah nakal.”

Saat sean hendak menyentuh miliknya, namun dengan cepat Sasy menepis tangannya. “Dont touch my naughty buddy.”

Sean yang sempat tertawa, langsung mengerang nikmat saat tangan Sasy yang dingin dan basah menggenggam kejantanannya dan melakukan gerakan naik turun. Ia menumpukan tangan di lantai belakang untuk menahan tubuhnya, lalu tangan yang satunya membelai kepala Sasy yang masih memakai gelangnya sebagai ikat rambut. Lagi-lagi Sasy menepis tangannya, gadis itu memang tak suka jika diganggu saat sedang bermain dengan best buddy-nya.

“suck it, please....”

Sasy tak menuruti permintaan Sean, ia tak langsung memasukkan kejantanan yang telah menegang sempurna itu ke dalam mulutnya. Bibir dan lidahnya menciumi sekaligus menjilat setiap inchi kejantanan yang urat-uratnya menyembul ke permukaan itu. Setiba di ujungnya, barulah ia measukkan kejantanan Sean ke dalam mulutnya. Diameter milik Sean membuat bibirnya serasa terarik karena begitu penuh.

“Ughh....” Sean melenguh merasakan kejantanannya dihimpit sesuatu yang basah sekaligus hangat. Dan ketika Sasy memaju mundurkan mulutnya sambil mengusap lembut bola zakarnya, ia hanya bisa terpejam. Ia terbuai dengan cara Sasy memanjakan keperkasaannya dengan menghisap ujungnya dan mengurut sisanya yang tak mendapatkan tempat dalam mulut Sasy. Sesekali gadis itu melirik nakal kearahnya, menikmati raut wajahnya yang menderita terbakar gairah.

Tempo gerakan Sasy yang bertambah membuat Sean mengerang nikmat, ia dapat merasakan kejantanannya berkedut menuju pelepasan. Dan disaat denyutannya semakin cepat, disitulah kenikmatannya meledak. Menyembur di dalam mulut Sasy.

Dengan napas pendek-pendek, menatap Sasy yang menelan sisa-sisa cairan orgasmenya. Gadis itu terlihat sangat-sangat menggoda di saat seperti ini.

Sasy menyeka mulutnya dengan air kolam. “Udah, ya?” pintanya memelas.

Namun ternyata Sean tak mau melepaskannya. Ia mengangkat Sasy dari air lalu mendudukkan gadis itu ke atas pahanya.

“Sean, ish, dibilangin udah juga,” gerutu gadis itu.

Namun Sean tak mengindahkannya, ia melumat bibir Sasy dan menuntunnya menuju ciuman yang bergairah. Disela ciuman agresifnya, ia merobek celana bikini Sasy dan melemparnya entah kemana.

Sasy melepas ciuman mereka, lantas memutar bola matanya. “kamu tuh ya suka banget robek-robek kain kalo lagi main. Udah dong Sen jangan main lagi—uhh...” celotehan dengan napas terengah itu Sasy berujung desahan karena Sean mengesek-gesekkan batangnya pada organ intim Sasy dengan sangat menggoda. Memang kurang aja pria di depannya ini, tanpa suara bisa membuatnya berserah.

“Kok berhenti?” tanya Sasy setelah Sean menyudahi kegiatan yang membuatnya horny itu. Sial, dia sudah memasuki ruang gairahnya dan terjebak di sana.

“Tadi disuruh berhenti.” Senyum nakal yang terukir di wajah Sean semakin membuat Sasy gelisah ditekan gairah. Holly shit! Dia memang meminginkan pria itu sejak awal.

“Sean ... lanjutin,” rengeknya memelas.

Sean menyeringai, membuat Sasy semakin geram. “Do it by your self, baby.”

Sasy mengerang jengkel, Sean benar-benar mengujinya. Tanpa aba-aba ia mencengkam kejantanan Sean dan membuat pria itu meringis. Ia berdiri di atas lututnya yang bertumpu pada lantai di samping kanan-kiri Sean, posisinya yang mengangkang memudahkannya untuk menuntun batang pria itu memasuki liang kewanitaannya.

Mereka melenguh bersamaan ketika batang Sean itu tenggelam sepenuhnya ke dalam liang panas milik Sasy.

“You’re so tight, baby.” Sean mengecup pundak Sasy, kerapatan gadis itu sangat menakjubkan ketika membungkus kejantanannya.

Sasy mulai menaik turunkan tubuhnya, begitu pun Sean yang menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama Sasy. Sean menyambar bibir sasy disela serangan nikmat jepitan kewanitaan Sasy pada kejantannya, isi kepalanya menggila karena miliknya serasa dipijat setiap Sasy menaik turunkan pinggulnya.

Setiap Sasy yang memimpin, pasti permainan mereka terasa lebih intim dan dalam.

Sasy memang tak lagi perawan saat mereka melakukan penyatuan yang pertama, tapi ia tak mempermasalahkannya. Toh dirinya juga bukan perjaka dan ia tak mau menjadi pria brengsek yang hanya memangsa gadis-gadis perawan. Lagipula milik Sasy itu masih sangat sempit seperti baru pertama kali dimasuki. Dilihat dari permainan pertama mereka, gadis itu lebih banyak bergerak dengan insting. Kesimpulannya, Sasy bukan orang berpengalaman dengan seks. Sepertinya ia baru sekali dua kali melaluinya.

Tapi anehnya, permainan Sasy justru lebih memabukkan dari pada wanita berpengalaman. Apalagi gadis itu memiliki stamina yang mampu menandinginya. Benar-benar candu dan membuatnya gila.

“Se—sean... shhh...” Sasy meracau tak karuan, tubuhnya mulai dibaluri keringat.

Tangan Sean terangkat ke arah payudara gadis itu, menangkup keduanya dengan tangan besarnya dan meremasnya hingga Sasy mendesah nikmat. Ia merunduk, menyambar puting Sasy yang menengang. Menghisapnya dengan begitu bergairah dan memainkan dengan lidahnya. Begitupun dengan sebelahnya, dikulum begitu adiktif lalu menghujani sekitaran payudaranya dengan hisapan panas yang meninggalkan bercak kemerahan baru.

Kemudian Sean memegang bokong Sasy lalu mempecepat dorongan pinggulnya ke atas. Tiba di tengah permainan, Sean membaringkan Sasy di atas marmer. Merubah posisi mereka tanpa melepas penyatuan yang terjalin.

Sasy refleks melingkarkan kakinya di pinggul Sean, menyambut ciuman liar pria itu saat menumpukan kedua tangan di samping kanan dan kiri kepalanya.

Jika permainan Sasy intim dan dalam, maka Sean adalah liar dan bergairah. Ia menggerakkan miliknya dengan tempo cepat, menghujam liang kewanitan Sasy tanpa ampun. Mendominasi di sana dengan begitu posesif sekaligus adiktif. Ia menghentakkan batang kejantanannya dengan sedikit kasar, namun membuat Sasy terbuai hingga bibirnya melepas erangan nikmat disela lilitan panas lidah mereka.

Desahan Sasy berderai setelah ciuman mereka telepas. Ia tak lagi bisa mencengkam punggung Sean karena kulitnya licin dibaluri keringat.

“Sy... ahhh....” Gerakan Sean semakin brutal, desahan Sasy yang menyusupi pendengarannya justru membuat gairahnya semakin tersulut. Ketika Sean merasakan kontraksi di otot-otot vagina Sasy, ia memperlambat hentakannya. Mempersilahkan gadis itu menyelami momentumnya.

“Seannn!” Sasy mencapai puncak kenikmatannya lebih dulu, ia mengejang dan melepaskan orgasmenya. Napasnya terengah-engah dan kakinya yang tadi menegang, kini terkulai meskipun Sean masih menghunjamkan miliknya namun dalam tempo lambat.

Merasakan Sean akan segera meledak, kewarasan langsung menghinggapi kepala Sasy. “Ya ampun, Sean! kamu nggak pake kondom! Dont cum inside me.”

Sean yang hampir mencapai puncak, terpaksa mencabut kejantannya dengan tampang kesal. Ia menyerahkan sisanya pada Sasy.

“Sasy....” suara berat itu mengerang dengan seksinya ketika Sean melakukan pelepasan di mulut Sasy untuk kedua kalinya. Salah satu momentum yang paling Sasy sukai saat mereka bercinta.

“Gara-gara kamu nih, padahal tadi niatnya cma oral.”

Sean terkekeh geli. Sasy yang berdiri telanjang sambil berkacak pinggang, sungguh menantang dilihat dari bawah. Mati-matian ia harus menangkan pikiran agar adik kecilnya tak bangun lagi.

“Tapi enak, kan?”

Geram, Sasy pun menendang kaki Sean dan sukses membuat pria itu meringis. “Sekarang masuk lagi ke kolam dan tunggu aku di situ!” titahnya kemudian masuk ke dalam rumah.

Well, ia tak bisa membantah Sasy kali ini. Setelah napasnya teratur, Sean kembali meluncur ke kolam.

Sean yang berenang menyelami kolam, seketika dibuat terpanah ketika dinding-dinding dan dasar kolam tersebut menembakkan sinar-sinar putih. Ia baru menyadari bahwa pola-pola bundar di dalam kolam tersebut bukanlah motif marmer, melainkan penutup lampu-lampu kecil yang terbenam di sana.

Sean menyembulkan kepalanya ke permukaan air, ia mendapati Sasy yang berjalan menyusuri pelipir kolam renang. “Apa ini?”senyumnya merekah lebar.

Mata Sasy berbinar melihat pancaran antusias di paras Sean, “Aku kan udah bilang kalo mau nunjukin kamu sesuatu. Jadi ini maksudku ... swim between the stars.” Sasy duduk di pinggir kolam, menikmati pemandangan Sean yang berdiri di tengah-tengah kolam bersama kepungan cahaya. “Gimana menurut kamu?”

“Wonderful.” Sean mengembuskan napas panjang, “aku jadi teringat cita-cita masa kecilku.”

Kalimat itu memancing kerutan di dahi Sasy. “Bukannya cita-cita kamu jadi pianis?”

Sean menggeleng, “Itu bakat dan passion.”

“Memangnya cita-cita kamu apa?” tanya Sasy sembari menaik-turunkan kakinya di air dengan gerakan ceil namun mampu menghempaskan bulir-bulir air ke udara lalu lagi ke dalam kolam.

“Seperti anak laki-laki kebanyakan, astronot. Dulu aku suka curi-curi waktu buat baca buku tentang benda-benda langit, baru saat SMP aku tahu bahwa sejak dulu yang kupelajari adalah ilmu astronomi.”

Sean terpekur menyelami ingatannya. Sean kecil bukan hanya menghafal benda-benda langit atau membaca dekripsinya, tapi mengingat seluruh material penyusunnya serta mempelajari perhitungannya. Buku-bukunya bahkan pernah dibakar oleh ibunya karena ia melewatkan kewajibannya untuk belajar piano.

“Terus kenapa nggak dilanjutin?” ia tak menyangka seorang Parasean pernah memiliki cita-cita yang terpendam dengan bakatnya. Meski begitu, Sean tetaplah seseorang yang mampu berdiri dengan bakatnya. Tak seperti dirinya....

“Karena impian itu terlalu naif. Aku sadar bakatku bukan di bidang sains, meskipun orang bilang bakat bisa kalah dengan kerja keras.”

“Jadi intinya, kamu nyerah?”

“Aku harus memilih salah satu, bakat yang memang sudah jelas atau cita-cita yang belum pasti. Sebenarnya dua hal itu nggak masalah buatku, tapi sekeras apapun aku berusaha di sains, selalu ada orang yang lebih pintar. Sedangkan musik...”

“Kamu nggak ada tandingannya ... The Prodigy,” lanjut Sasy.

“Aku nggak mungkin jalani keduanya, terlalu berbeda jalurnya. Jadi aku mencoba realistis dan membuat kesepakatan dengan realita. Lagi pula, melepaskan bukan berarti meninggalkan,” tutur Sean. Sekarang ia menjadikan cita-cita lama itu sebagai refreshing.

Sasy menatap kerlap-kerlip bintang di langit lalu mendesah berat. Kasus Sean sama seperti dirinya sekarang. Namun bedanya ia tak dapat memilih. Berdamai dengan realita? Tidak, tidak ada realita. Melainkan sebuah paksaan, lantas bagaimana caranya untuk berdamai?

“Kenapa, Sy?”

Sasy menggeleng lemah kemudian turun ke dalam air. Ia menyelam dan bergerak menghampiri Sean, ternyata pria itu juga menenggelamkan diri ke dalam air. Ketika jarak mereka semakin menipis, Sean merengkuh lehernya kemudian menyatukan bibir Sasy.

Tembakan lampu-lampu dari dasar kolam dan taburan bintang di langit malam, menggiring imajinasi menuju sebuah sensasi di mana mereka seakan-akan melayang di luar angkasa. Seumpama berada antara hamparan bintang.

Tiba-tiba kilas balik seluruh peristiwa pertemuannya dengan Sean menghampiri benar Sasy. Terngiang bagaimana perlakuan dingin pria itu padanya dulu, dan tersadar betapa licik semua rencananya dulu. Setelah kenal, ternyata pria itu tipikal manseo; outwardly cold or retiring. But deep and passionate inside.

Sejujurnya dorongan utama mengapa ia begitu gencar mengejar-ngejar Sean adalah karena ia mencoba menerapkan kalimat “Tak ada usaha yang menghianati hasil” pada Sean. pepatah yang selama ini ia ragukan karena selalu gagal terwujud dan hanya mendesaknya pada jurang putus asa. Namun Sean membawa angin baru baginya, wujud nyata bahwa sebuah kegigihan menghantarkan datangnya keajaiban–yang ternyata nama lain dari usaha.

Hal itu menyulut dorongan untuk berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan mencobanya lagi.

Disela ciuman mereka, Sean berjalan menuju pinggir kolam. Kali ini, giliran Sasy yang duduk di sana.

“Sean, ambil kondom dulu. Aku nggak mau ya kayak tadi,” pinta Sasy separuh merengek.

“Aku nggak bawa.”

Mata Sasy kontan membulat, “kamu....”

“Sasy bagaimana kalau aku jadi pria brengsek malam ini?”

Ia menginginkan kehadiran Cassie... Cassie yang tak akan pergi lagi darinya...

Sejurus setelah mencerna jelas maksud ucapan Sean, Sasy langsung berniat bangkit berdiri dan lari. Tidak, ia tidak sanggup jika Sean menginginkan sesuatu darinya. Namun ia dibuat tak berkutik. “Seannn!!!”

Namun dengan cepat Sean melebarkan kakinya dan menggosok lipatan klitorisnya dengan jari-jarinya yang panjang dan menggoda itu. Sasy menggelinjang ketika jari tengah Sean menusuk liang kewanitannya, ia mencengkam rambut Sean saat merasakan putaran jemari itu di dalamnya dan mendesah nikmat tatkala Sean mengeluar-masukkan jemarinya dalam tempo seirama.

Organ intimnya berdenyut tak karuan seperti desahannya ketika merasakan lidah panas Sean bermain di sana. Menekan-nekan intens dan menjilatinya dengan rakut. Lalu sekujur tubuhnya menengang ketika mulut Sean menyedot keras, ia dapat merasakan pegangan Sean yang mengetat pada pahanya. Dan ketika mulut nakal itu menyedot kesekian kalinya, gelombang orgasme Sasy datang sehingga ia terjatuh di lantai dengan napas pendek-pendek.

Sean naik dari air, meluruskan tubuh Sasy segaris pinggir kolam. Ia mengambil posisi di atas tubuh Sasy dengan lutut yang berpijak pada lantai dan yang terlentang lurus di sisi kepala gadis itu. Matanya dikabuti gairah melihat tubuh kecil Sasy yang terbaring dibawahnya.

“Sean, please dont.” Mohon Sasy, ia harus kabur karena jika Sean sudah memulai. Ditilik dari tatapan lapar pria itu, pasti Sean tak akan menuruti permintaanya lagi. Tetapi tubuhnya tak bergerak, seolah bersekongkol dangan gairah Sean.

Sasy mengusap wajahnya dan memaki dalam hati. Betapa tubuhnya sangat murahan.

“Sorry Sasy, i just can’t stop.” Suara berat itu berbisik serak dan terkesan frustrasi.

Sasy mengigit bibir bawahnya, seharusnya ia menangis agar kesadaran Sean tergugah dan mereka tak melanjutkan situasi ini. Tapi air mata sialan itu tak keluar karena tubuhnya berkhianat dan mendambakan getaran sensual itu lagi.

Sean menunduk, menatap ke arah batang kejantanannya yang menggantung. Ia menggenggam penisnya lalu mengocoknya hingga dirasa cukup barulah ia mengarahkannya pada lipatan vagina Sasy yang terbuka.

Sasy mengerang tertahan ketika dirasa batang keras Sean masuk secara perlahan. Memasukkannya sebagian lalu menariknya keluar, memasukkannya lagi dan menariknya lagi. Gerakannya begitu menggoda dan membuat pikiran Sasy gila.

Sean mendesah kasar, dinding-dinding basah itu meremas miliknya dengan panas. Perlahan ia menaikkan pinggulnya lalu menjatuhkannya lagi, lalu melumat bibir Sasy disela kegiatan tubuhnya yang memompa dengan begitu intens.

“Sean ... harder please.” Sasy benci dengan dirinya, benci dengan mulutnya yang begitu jujur. Ia sengsara karena permainan Sean tak memenuhi dorongan gairahnya yang meminta lebih. Ia tak suka Sean bermain lambat jika staminanya masih tinggi. “Cepett—” desahnya separuh merengek. Tak tahan. Karena sejak Sean menyuguhkannya gaya bermain anarkis, ia langsung mencanduinya layaknya ketergantungan heroine.

“Nakal ya kamu, mintanya main kasar.”

Sean suka Sasy yang seperti ini. Sasy yang tersiksa oleh arus pemainanya. Sasy yang memohon padanya dengan pandangan mendamba. Ia memang sengaja menggoda gadis itu.

Sean mengabulkannya dengan syarat dirinya tak akan melayani bagian tubuh Sasy yang lain.

Ia menghentikan gerakannya di bawah sana. Tanpa melepas penyatuan mereka, Sean mengubah posisinya menjadi duduk bersimpuh. Ia memegang pinggul Sasy, mengangkatnya sedikit. Lalu dalam hitungan ketiga, ia menikam liang Sasy dengan kencang. Memompa tubuhnya dengan tempo cepat hingga gejolak dalam diri mereka semakin brutal berkuasa.

“Jangan tutup wajahmu!” perintah Sean dalam erangannya.

Ia mencandui ekspresi Sasy setiap dirinya melakukan ini. Gadis itu memiliki wajah yang sangat ekspresif, dan salah satu candunya adalah raut menderita yang tergurat saat ia menyodokkan batangnya dengan brutal. Ia kejam kalau sudah seperti ini, tak mau menyalurkan rasa sakit Sasy oleh ciuman atau sesapan. Ia mencandui pemandangan tubuh Sasy yang belingsatan dan payudara Sasy yang bergoyang seirama hentakannya.

Sean mendongak seraya mengerang, rasanya begitu nikmat ketika menusuk liang itu dengan membabi buta. Dua bola kembar di bawah batangnya ikut menampar permukaan kulit Sasy, memperindah bunyi yang tercipta di bawah sana.

Lalu ritme permainan Sean melambat disusul dengan kewanitaan Sasy yang mengerat.

“Sean, jangan di dal—”

Sasy terlambat mencegah karena pria itu langsung mengerangkan namanya disusul dengan tembakan panas dari ujung batang penisnya bersamaan dengan pelepasan Sasy. Cairan mereka menyatu di dalam liang sempit itu.

Sean jatuh menindih tubuh Sasy, napasnya terengah-engah seirama dengan helaan napas Sasy yang lebih memburu. Barusan adalah klimaks yang sangat nikmat. Menyadari bahwa gadisnya bisa saja kehabisan napas karena ditekan tubuh beratnya, Sean pun mencoba bangkit. Mereka sama-sama mendesah ketika kejantanan itu dicabut.

“That was amazing,” bisik Sean serak.

Sasy tak menjawab, pikirannya berkecamuk. Ia berada dalam masa subur dan Sean baru saja menyemprotkan spermanya. Sial, rasanya benar-benar nikmat. Baru kali rahimnya diisi oleh spema. Sensasinya benar-benar berbeda, sama seperti pertama kali merasakan tusukan penis tanpa kondom dan itu dilaluinya bersama Sean.

Tidak, Ia harus kabur sekarang juga.

Dengan tungkai yang masih lemas, Sasy mencoba berdiri. Seketika gabungan cairan mereka meleleh ke pangkal pahanya. Namun ia tak peduli, ia harus lari.

Sialnya, Sean dengan sigap menyusul langkahnya. Menarik pinggulnya dari belakang sehingga ia berhenti.

Sasy menoleh ke belakang, pancaran gairah di mata Sean masih berkobar besar. “Sean, udah dong.” Sasy memelas frustrasi.

“Sorry baby, i cant let you go.” Suara berat itu memvonis tegas.

Sasy mengerang tertahan ketika Sean merengkuh perutnya dan menggesek-gesekkan milikknya belahan pantatnya. Lalu tangan pria itu merambah buah dadanya, meremasnya lembut sambil menciumi punggungnya. Sasy mendesah nikmat. Betapa ia membenci dirinya yang munafik dan tubuhnya yang berkhianat. Ia tak berdaya dengan perlakuan pria itu, seolah menyodorkan diri untuk disetubuhi.

“Doggy style, baby.” Dan perintah Sean seperti mantra. Magis.

Awalnya Sasy hanya merendahkan tubuhnya, namun Sean memintanya untuk menungging dengan lutut karena jika Sasy berdiri posisi gadis itu, terlalu rendah baginya. Sasy menurut, ia melebarkan kakinya untuk akses yang lebih baik dan Sean pun berdiri dengan lututnya, agak menurunkan pinggulnya agar berada pada jalan yang pas.

Setelah Sean mempersiapkan miliknya, ia mengarahkan kejantanannya pada organ intim Sasy. Menggesek-gesekknya permukaannya sebelum mendorongnya masuk.

Sasy merasa seperti di awang-awang ketika batang keras itu menghunjam tubuhnya, buku-buku jarinya yang mencakar lantai tampak memutih. Ritme genjotan Sean semakin naik, memperkeras bunyi sentakan licin di bawah sana karena sedari awal area intimnya sudah basah.

Payudara Sasy yang menggantung langsung disambar Sean. Ia meremasnya dengan penuh napsu dan membuat Sasy belingsatan ditengah napasnya yang tersenggal. Tubuhnya semakin giat memompa hingga benaknya dikabuti gairah pekat.

Sasy menggila akibat gejolak di perutnya, “I’m cum!”

“Wait.”

Dinginnya hembusan angin tak lagi mereka rasakan, bahkan dersik daun kelapa kalah beringas dengan desan mereka yang terlepas ke udara dikala gelombang orgasme melanda.

Sean membantu Sasy agar terduduk di depannya, perlahan kaki mereka berselonjor. Napas mereka masih tersenggal-senggal dan Sasy dapat merasakan otot perut Sean yang bergerak di belakangnya karena pria itu memeluknya erat. Bukan lagi air yang membasahi tubuh mereka, melainkan keringat yang membanjiri.

Belum pulih alur pernapasan mereka dan belum jernih pandangan mereka, namun Sean sudah merengkuh sisi kepala Sasy dan menuntunnya bergerak ke kanan. Sean meraup bibir Sasy, melumatnya dengan penuh nafsu tapi tidak kasar seperti sebelumnya. Lidahnya memaksa masuk menembus bibir Sasy, menjilat langit-langit gadis itu lalu mengajak benda basah disana untuk bergulat.

Sasy mengerang redam ketika merasakan ibu jari Sean mengobok-obok lipatan kewanitaannya, lalu tangan yang satunya menjepit-jepit puting payudaranya. Tangan pria itu memang tak bisa diam. Menyebalkan.

Tapi suka.

Sial.

Benci.

Fuck!

Volume buah dadanya bisa bertambah kalau Sean rutin melayaninya seperti ini.

Sasy mengerang kesal saat kedua tangan Sean berhenti menjamah tubuhnya, lantas ia melepas ciuman mereka. Rasanya ia ingin menendang pria itu ketika mendapati seringai nakal tersungging di sana.

“Seaan.” Ia menggeram jengkel.

“Santai, Sasy.”

Sasy berdecak sebal. “Bukannya dari tadi kamu yang nggak nyantai?” omelnya ketus.

“Sebentar ...” ia bangkit berdiri lalu menarik tangan Sasy agar ikut berdiri, namun gadis itu limbung sehingga Sean harus menopangnya. “Aku harus membersihkan sesuatu.”

“Apa?”

Sean tak menjawab, ia menuntun Sasy mendekati pohon kelapa dan menyandarkannya di sana.

“Mau ngapain sih, Sen?”

Lagi-lagi Sean tak menjawab. Namun mata Sasy langsung melebar ketika dilihatnya Sean berlutut di hadapannya dan membuka kedua kakinya. Pria itu menjilati lelehan cairan di paha Sasy dengan begitu menggoda, bibirnya terasa panas kala menghisapnya dan meninggalkan bercak di sana.

“Oh gosh!” Sasy memekik ketika Sean menarik lututnya sehingga ia dalam posisi duduk tak beralas dan hanya bersandar pada pohon kelapa yang terasa kasar di punggungnya. Tangannya ke belakang, memeluk batang pohon itu agar tak jatuh.

Sean menenggelamkan wajahnya di selangkangan Sasy, menghirup aroma kewanitan gadis itu. “You smell good, baby.”

Sasy bergetar hebat ketika Sean mulai menyedotnya, pria itu bermain-main di sana dengan lidahnya dan mengigit-gigit kecil klitorisnya. Sasy mendongak, ia tak henti-hentinya menjerit sensual. Pandangannya buram diserang kenikmatan. Sedotan mulut Sean sangat hebat, membuat sekujur tubuhnya menggelepar. Lalu ia hampir merosot saat mencapai puncak kepuasan, untungnya tangan kokoh Sean menahan pahanya. Pria itu menelan seluruh cairan orgasmenya dan permukaan lidahnya yang kasar itu menyapu permukaan kulit selangkangannya.

“You drive me insane,” suara Sasy parau, tanggannya bahkan bergetar.

Sean menuntunya berdiri dan masih bersandar. Pria itu menyambar bibirnya, membagi aroma cairan Sasy yang masih melekat di bibirnya. Dengan agresif Sean melumat bibir Sasy, memagut bibir gadis itu lalu bergelut dengan lidahnya. Tangan Sasy tak tingga diam, ia memegang batang kejantanan Sean, meremasnya dan mengurutnya dengan gerakan maju mundur.

Lalu Sean mengangkat kaki kiri Sasy dan melingkarkannya ke pinggulnya. Sasy menjinjitkan kaki kanannya agar jalur mereka pas, tak begitu berat karena tubuhnya masih bersandar dan Sean cengkaman Sean di pinggangnya turut menopangnya.

Sasy meraih batang kejantanan Sean, mengusap sebentar ujungnya yang merupakan tempat peluncuran sperma itu, lalu mengarahkannya ke dalam liang miliknya. Perlahan-lahan batang yang telah menegang itu tenggelam di liang kenikmatannya.

Tanpa diduga tetesan gerimis mengalir lembut di tubuh mereka, membuat mereka refleks menengadah dan menapati langit berbintang telah tercemar oleh awan kelabu. Lingkaran-lingkaran kecil tampak menyembul di kolam renang.

Namun mereka tak peduli, mereka mulai memompa satu sama lain. Malahan bulir-bulir air semakin membuat mereka bergairah. Kaliini tak ada hentakan kasar, melainkan goyangan seirama yang dalam dan menuntut. Kepala Sasy jatuh di bahu Sean, bibirnya sudah bengkak dan dadanya sudah penuh bercak-bercak merah. Sepertinya Sean memberi dua bagian itu waktu untuk beristirahat, namun ia tak mengambil kesempatan itu.

Diciuminya bahu lebar itu, dihisapnya dan dijilatinya. Lalu lidahnya menekan-nekan denyut di leher Sean dan jakun yang menyembul di sana. Sean mengerang tertahan.

“Sasy, sepertinyanya kita harus masuk,” bisik Sean tak seberapa kentara. Pasalnya ritme luruhan butir-butir air itu kian cepat memburu.

Sasy mengangguk setuju, namun melihat pintu belakang yang terasa sangat jauh membuatnya mendengus lesu. Kakinya sangat lemas seperti tak lagi bertulang.

Sean terpaksa mencabut batang kejantanannya. Tanpa Sasy duga, pria itu mengangkat tubuhnya ke bahu kekarnya. Sasy kontan tertawa saat Sean berjalan sambil menggendong tubuhnya di atas pundak, namun pria itu malah menepuk pantatnya dengan geram.

Sesampainya di dalam, Sean mendudukkan Sasy ke atas sofa beledu berwarna merah gelap di sana. Saat Sean hendak memposisikan diri di atas Sasy, tiba-tiba Sasy menahan pinggangnya.

“Berdiri dulu.”

Pandangan Sasy beralih dari wajah Sean menuju penisnya yang mengacung teramat menantang. Ia menelan salivanya lalu menggenggam batang panas itu dan mulai menggerakkan tangannya, berseluncur di batang berurat itu. Mengocoknya dengan tempo cepat hingga semakin membengkak.

“Itu bukan mic, jangan dipegang terus. Memangnya kamu mau nyanyi?” gurau Sean.

Sasy lantas tertawa lalu mendekatkan mulutnya ke kepala penis Sean. “Check sound ... one two three ... earth to Sean? earth to Sean?”

Gelak Sean terlepas. Gadis ini benar-benar, ia sampai menggelengkan kepala. Namun gelaknya tak bertahan lama karena langsung digantikan desahan tertahan ketika Sasy mengulum miliknya dan memutar-mutarkan lidahnya di sana.

Kala Sasy melumat batang ereksinya, Sean menjadi sesak napas dan nama Sasy mencuat dalam erangan putus-putusnya. Tubuhnya bergetar ketika Sasy menghisapnya kuat lalu lidahnya menjilat dari ujung batangnya dan turun menyapa dua bola di bawah sana. Bergantian, gadis itu mengulumnya dengan sensual dan tangannya kembali naik-turun di kejantanannya, membuatnya harus berpeganga pada punggung sofa karena kakinya terasa lunglai.

“Kenapa barhenti?” tanya Sean gusar, padahal ia hampir mendekati puncak.

Balas dendam lagi, huh?

“No more round. You wanna cum inside or outside?”

Sasy pasti sudah gila, sekarang malah ia sendiri yang menyerahkan diri pada Sean. habisnya separuh hatinya menyerah dan pasrah. Sudah terlajur, begitu bisikan setan yang dipeliharanya.

Sean mengangkat kaki Sasy ke atas pahanya yang tertekuk di sofa lalu memasukkan batang kerasnya ke organ intim Sasy. Dinding yang menjepit keperkasaannya membuat Sean resah, ia memaju mundurkan miliknya dan Sasy juga ikut menggoyangkan pinggulnya.

Sasy mencengkram permukaan sofa ketika ritme hentakan Sean berangsur intens dan dalam. Sean menggenjotnya dengan begitu bernafsu, membuat lenguhan liar mereka menyatu di udara. Rasanya gila, nikmat sekaligus memabukkan.

Lalu gelombang sensasi itu datang. Napas Sean tertahan ketika dirinya klimaks menghampirinya, begitupun Sasy yang langsung bersandar lemas di punggung sofa setelah tubuhnya mengejang dan mendapatkan ledakan nikmat.

Tubuh Sean ambruk di tubuh Sasy, pria itu juga lemas setelah mendapat kepuasan berkali-kali.

Sean mengecup singkat bibir Sasy, menatap gadis itu dengan seulas senyum. Betapa Sasy sangat mengerti dirinya selama ini dan mengerti gairahnya. Baru kali ini dia menemukan seseorang yang mempu menghabiskan gejolak gairahnya. Sangat tak salah kalau ia berbisik di telinga Sasy, “Kamu yang terbaik, Sasy. Nggak ada matinya.”

Sesungguhnya Sasy pun tak mengerti dari mana ia mendapatkan tenaga yang besar untuk meladeni Sean sampai usai. Pengalaman? Ia bahkan dua kali melakukannya, yang pertama kecelakaan yang kedua keenakan. Mungkin karena pertama kali melihat Sean, tubuhnya sudah mendambakan pria itu. Atau jari-jari panjang itu yang membangkitkan nafsunya? Entahlah.

Dan perkara penyatuan cairan mereka, entahlah, Sasy tak ingin memikirkannya sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sensation Maker

Bacanya jangan diskip yahh, soalnya yang di wattpad banyak paragraf yang di skip dan diperhalus bahasanya. sedangkan disini lebih vulga...